MATAJAMBI.COM - Memasuki awal tahun sering kali menghadirkan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi muncul semangat menyusun resolusi dan harapan baru, namun di sisi lain tak sedikit orang justru diliputi rasa cemas, lelah secara mental, hingga overthinking tentang masa depan yang belum tentu berjalan sesuai rencana.
Bahkan, bagi sebagian orang, pergantian tahun bisa memicu ingatan akan kegagalan di masa lalu atau tekanan hidup yang belum terselesaikan.
Jika kamu merasakan hal serupa, kamu tidak sendirian. Justru, awal tahun adalah momentum yang tepat untuk lebih peduli pada diri sendiri dan mulai menata kesehatan mental secara perlahan. Tanpa target muluk, tanpa tuntutan berlebihan, fokuslah pada hal-hal sederhana yang membuat pikiran lebih ringan dan hati lebih tenang.
Kesehatan mental memiliki peran yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Kondisi mental yang baik memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan emosi, bersikap, serta mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.
Mental yang sehat membantu seseorang lebih tangguh menghadapi masalah, menikmati hidup, membangun hubungan sosial yang positif, bekerja lebih produktif, hingga berkontribusi di lingkungan sekitar.
Sebaliknya, jika kesehatan mental diabaikan, dampaknya tidak hanya terasa secara emosional, tetapi juga bisa memengaruhi kondisi fisik dan memicu gangguan psikologis yang lebih serius. Oleh karena itu, menjaga kesehatan mental sebaiknya dilakukan secara konsisten, bukan hanya saat merasa terpuruk.
Resolusi tahun baru sering kali terdengar indah di awal, namun berujung menjadi beban karena terlalu besar dan sulit dicapai. Daripada memaksakan target yang tidak realistis, lebih baik menetapkan tujuan kecil yang ramah bagi diri sendiri.Misalnya, meluangkan waktu untuk bertemu teman seminggu sekali, mengurangi waktu layar gawai sebelum tidur, atau mengikuti aktivitas komunitas yang mendukung kesejahteraan mental. Langkah-langkah sederhana ini justru bisa memberikan dampak besar bagi kesehatan mental sepanjang tahun.
Banyak orang terjebak memikirkan masa lalu atau mencemaskan masa depan, hingga lupa menikmati momen yang sedang dijalani. Padahal, satu-satunya waktu yang benar-benar kita miliki adalah saat ini.
Jika sulit menghentikan pikiran yang berlarian, tak perlu memaksakan diri. Cobalah berhenti sejenak, tarik napas dalam, perhatikan lingkungan sekitar, atau lakukan aktivitas ringan seperti menonton hiburan santai, bermain gim, atau berjalan keluar untuk menghirup udara segar. Cara-cara sederhana ini dapat membantu pikiran menjadi lebih rileks.
Manusia pada dasarnya membutuhkan koneksi dengan orang lain. Berinteraksi dengan keluarga, teman, pasangan, atau bahkan percakapan singkat dengan orang baru dapat membantu memperbaiki suasana hati dan mengurangi rasa kesepian.
Meski komunikasi digital semakin mudah, pertemuan tatap muka tetap penting untuk menjaga kualitas hubungan. Keseimbangan antara interaksi online dan offline dapat membantu membangun relasi yang sehat sekaligus memperkuat ketahanan mental.