MATAJAMBI.COM - Belakangan ini semakin banyak orang memilih mengurangi bahkan berhenti makan nasi.
Alasannya beragam, mulai dari ingin menurunkan berat badan, mengikuti tren diet rendah karbohidrat, sampai merasa perut lebih ringan tanpa nasi. Namun, di balik keputusan tersebut, ada hal penting yang sering terlewat: tubuh tetap membutuhkan karbohidrat sebagai sumber energi utama.
Bagi masyarakat Indonesia, nasi bukan sekadar makanan pokok, melainkan penyumbang energi terbesar dalam aktivitas sehari-hari.
Ketika asupan nasi dikurangi drastis tanpa diganti sumber karbohidrat lain yang setara, tubuh bisa mengalami kekurangan glukosa. Padahal, glukosa sangat dibutuhkan untuk menjaga fungsi otak, otot, dan organ vital tetap bekerja optimal.
Salah satu dampak yang paling sering dirasakan adalah tubuh menjadi mudah lemas dan cepat lelah.
Beberapa orang bahkan mengeluhkan pusing, gemetar, atau keringat dingin karena kadar gula darah menurun. Kondisi ini terjadi ketika tubuh tidak mendapatkan cukup bahan bakar untuk menghasilkan energi. Jika berlangsung terus-menerus, performa kerja dan konsentrasi pun bisa terganggu.
Selain itu, ketika asupan karbohidrat sangat rendah, tubuh akan beralih membakar lemak dalam jumlah besar untuk menggantikan sumber energi.Proses ini memang bisa menurunkan berat badan, tetapi dalam kondisi tertentu dapat memicu peningkatan zat keton dalam darah. Jika berlebihan, keadaan tersebut bisa berdampak kurang baik bagi kesehatan, terutama pada orang dengan gangguan metabolisme seperti diabetes.
Kebiasaan jarang makan nasi juga sering diikuti dengan berkurangnya porsi makan secara keseluruhan. Tanpa disadari, asupan protein, zat besi, dan vitamin pun ikut menurun.
Dampaknya, tubuh menjadi lebih mudah lelah, wajah tampak pucat, dan daya tahan tubuh melemah. Tidak sedikit orang yang akhirnya lebih sering terserang flu atau infeksi ringan karena sistem imun tidak bekerja optimal.
Otak juga sangat bergantung pada glukosa sebagai sumber energi utama. Ketika kebutuhan ini tidak terpenuhi, seseorang bisa merasa sulit fokus, mudah lupa, bahkan suasana hati menjadi tidak stabil. Dalam jangka panjang, kekurangan energi yang signifikan dapat mengganggu keseimbangan metabolisme tubuh secara keseluruhan.
Meski demikian, jarang makan nasi bukan berarti selalu berbahaya. Yang perlu dipahami, tubuh tetap membutuhkan karbohidrat dalam jumlah cukup.