MATAJAMBI.COM - Pergantian tahun sering identik dengan tanggal 1 Januari, pesta kembang api, dan resolusi baru. Namun kenyataannya, tidak semua negara di dunia menjadikan Tahun Baru Masehi sebagai awal tahun utama.
Faktor budaya, agama, dan sejarah membuat sejumlah negara memiliki penanggalan dan tradisi tahun baru yang berbeda.
Perbedaan ini menjadikan makna tahun baru jauh lebih kaya. Di berbagai belahan dunia, pergantian tahun justru diisi dengan refleksi spiritual, ritual adat, hingga penghormatan terhadap alam dan leluhur. Berikut deretan negara yang tidak merayakan Tahun Baru pada 1 Januari, lengkap dengan tradisi khasnya.
1. Arab Saudi – Tahun Baru Hijriah, Bukan Masehi
Arab Saudi termasuk negara yang secara tegas tidak merayakan Tahun Baru Masehi. Negara ini menggunakan kalender Hijriah sebagai acuan utama kehidupan sosial dan keagamaan.
Bagi masyarakat Arab Saudi, Tahun Baru jatuh pada 1 Muharam, yang dirayakan dengan doa, refleksi diri, dan peningkatan ibadah. Tidak ada pesta atau perayaan besar. Pemerintah bahkan melarang penjualan atribut Tahun Baru Masehi demi menjaga nilai-nilai syariat Islam.
2. Iran – Nowruz Penanda Awal Musim Semi
Iran tidak menjadikan 1 Januari sebagai Tahun Baru. Negara ini memakai kalender Persia, dengan perayaan Tahun Baru bernama Nowruz yang jatuh setiap 21 Maret.
Nowruz melambangkan kebangkitan alam dan awal musim semi. Tradisi ini diisi dengan membersihkan rumah, mengenakan pakaian baru, serta berkumpul bersama keluarga. Nowruz telah berlangsung lebih dari 3.000 tahun dan diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO.
3. China – Tahun Baru Imlek Jadi Momen Utama
Di Tiongkok, Tahun Baru yang paling penting adalah Tahun Baru Imlek, bukan 1 Januari. Imlek mengikuti kalender lunar dan biasanya jatuh antara akhir Januari hingga pertengahan Februari.
Perayaan Imlek berlangsung meriah dengan hiasan merah, makan malam keluarga, pembagian angpao, serta pertunjukan barongsai. Semua ritual dilakukan sebagai simbol doa untuk keberuntungan dan kemakmuran.