MATAJAMBI.COM - Keluhan mual kerap membuat banyak orang bingung, terutama karena gejalanya bisa menyerupai berbagai kondisi. Dua penyebab yang paling sering disalahartikan adalah mual akibat kehamilan dan gangguan asam lambung.
Keduanya sama-sama menimbulkan rasa tidak nyaman di perut, bahkan tak jarang disertai muntah. Padahal, penyebab hingga cara penanganannya sangat berbeda, sehingga penting untuk mengenali perbedaannya sejak dini.
Pada dasarnya, mual merupakan respons tubuh terhadap berbagai perubahan, termasuk fluktuasi hormon saat kehamilan maupun meningkatnya asam lambung.
Karena gejalanya hampir serupa, tak sedikit orang merasa khawatir dan sulit memastikan penyebab mual yang dialami. Pemahaman yang tepat akan membantu menentukan langkah penanganan yang aman dan kapan perlu berkonsultasi ke tenaga medis.
Salah satu pembeda utama antara mual hamil dan asam lambung terletak pada waktu kemunculannya. Mual pada kehamilan umumnya lebih sering muncul di pagi hari dan dikenal sebagai morning sickness.
Meski begitu, pada sebagian ibu hamil, rasa mual bisa berlangsung sepanjang hari, terutama pada awal masa kehamilan atau trimester pertama. Sementara itu, mual akibat asam lambung lebih sering dirasakan setelah makan, terutama bila mengonsumsi makanan tertentu atau saat jadwal makan tidak teratur. Keluhan ini juga cenderung memburuk pada malam hari atau ketika tubuh dalam posisi berbaring.
Perbedaan lain dapat dikenali dari gejala yang menyertainya. Mual karena kehamilan sering kali disertai muntah, rasa tidak enak di mulut, serta sensitivitas tinggi terhadap bau tertentu. Kondisi ini biasanya tidak diikuti rasa panas atau perih di dada. Sebaliknya, mual akibat asam lambung kerap disertai sensasi terbakar di dada atau ulu hati, mulut terasa asam atau pahit, sering bersendawa, serta perut terasa kembung. Pada beberapa kasus, penderita hanya merasakan mual tanpa muntah.
Jika dilihat dari pemicunya, mual hamil umumnya berkaitan erat dengan perubahan hormon dan respons tubuh terhadap bau atau rasa yang sebelumnya tidak menimbulkan keluhan.
Mual ini tidak selalu berhubungan dengan pola makan. Berbeda dengan itu, mual akibat asam lambung lebih sering dipicu oleh kebiasaan makan yang kurang teratur, porsi makan berlebihan, konsumsi makanan pedas, asam, atau berlemak, serta kebiasaan langsung berbaring setelah makan. Faktor stres juga dapat memperparah keluhan asam lambung.
Pengaruh posisi tubuh juga bisa menjadi pembeda. Pada mual hamil, perubahan posisi tubuh biasanya tidak terlalu memengaruhi intensitas mual. Sebaliknya, pada gangguan asam lambung, keluhan sering kali semakin berat saat penderita berbaring, membungkuk, atau tidur setelah makan karena asam lambung lebih mudah naik ke kerongkongan.
Dari sisi penanganan, kedua kondisi ini juga memerlukan pendekatan yang berbeda. Mual akibat kehamilan umumnya akan mereda dengan sendirinya seiring bertambahnya usia kehamilan, terutama setelah memasuki trimester kedua.