Lifestyle

Apa Itu Alpine Divorce? Fenomena Hiking yang Bisa Bikin Hubungan dan Keselamatan Terancam

0

0

matajambi |

Senin, 18 Mei 2026 09:25 WIB

Reporter : Adri

Editor : Adri

Apa Itu Alpine Divorce? Fenomena Hiking yang Bisa Bikin Hubungan dan Keselamatan Terancam - (IST)

Berita Terkini, Eksklusif di Whatsapp

+ Gabung

MATAJAMBI.COM - Mendaki bersama pasangan seharusnya menjadi aktivitas menyenangkan untuk menjaga kebugaran sekaligus menikmati waktu berkualitas. Namun, suasana bisa berubah tidak nyaman ketika salah satu orang berjalan terlalu jauh di depan dan meninggalkan pasangannya tertinggal di jalur pendakian.

Fenomena tersebut belakangan ramai disebut sebagai “Alpine divorce”. Istilah ini menggambarkan situasi ketika seseorang meninggalkan teman atau pasangannya saat hiking, sehingga orang yang ditinggalkan berisiko berada dalam kondisi rentan di alam terbuka.

Meski terdengar seperti istilah baru dari media sosial, konsep ini sebenarnya sudah lama dikenal. Belakangan, istilah tersebut kembali populer karena banyak orang membagikan pengalaman mereka ketika tertinggal sendirian di jalur pendakian.

Tentu saja, tidak semua pendaki yang sendirian berada dalam situasi berbahaya. Banyak orang memang sengaja memilih hiking solo untuk mencari ketenangan, menikmati alam, atau melatih kemandirian. Bahkan, bagi sebagian orang, waktu sendiri di alam terbuka bisa membantu mengurangi stres dan memperbaiki suasana hati.

Namun, mendaki sendirian tetap memiliki risiko yang tidak bisa dianggap remeh. Jalur yang membingungkan, cuaca yang berubah cepat, keterbatasan perbekalan, hingga tidak adanya orang yang membantu saat terjadi masalah dapat membuat situasi menjadi berbahaya.

Karena itu, baik mendaki sendiri maupun bersama orang lain, persiapan yang matang menjadi kunci utama agar perjalanan tetap aman.

Hiking solo bisa menjadi pengalaman yang aman dan menyenangkan jika dilakukan dengan persiapan yang tepat. Namun, aktivitas ini membutuhkan kewaspadaan, disiplin, dan kemampuan membaca kondisi diri serta lingkungan.

Salah satu risiko terbesar saat mendaki sendirian adalah tidak adanya orang lain yang bisa langsung membantu ketika terjadi keadaan darurat. Cedera seperti pergelangan kaki terkilir, jatuh di medan berbatu, dehidrasi, hipotermia, kelelahan panas, hingga tersesat dapat berkembang menjadi kondisi serius jika tidak segera ditangani.

Risiko lain yang perlu diperhatikan adalah perubahan cuaca. Di area pegunungan, cuaca dapat berubah sangat cepat. Langit cerah bisa mendadak menjadi gelap, angin kencang muncul tiba-tiba, atau hujan turun saat pendaki berada jauh dari titik awal.

Selain itu, jalur yang kurang jelas atau minim penanda juga dapat membuat pendaki mudah kehilangan arah. Kondisi ini semakin berbahaya jika pendaki tidak membawa peta, kompas, atau alat navigasi yang memadai.

Perlengkapan yang tidak lengkap juga menjadi masalah besar. Saat mendaki bersama kelompok, seseorang masih bisa berbagi logistik atau alat darurat. Namun saat sendirian, semua kebutuhan harus benar-benar dipersiapkan sendiri.
1. Beri Tahu Orang Terdekat Tentang Rencana Pendakian

Langkah paling penting sebelum hiking adalah memberi tahu seseorang mengenai rencana perjalanan Anda. Sampaikan lokasi pendakian, jalur yang akan dilewati, titik awal pendakian, waktu keberangkatan, dan perkiraan waktu kembali.

Sumber :

Share :

KOMENTAR

Konten komentar merupakan tanggung jawab pengguna dan diatur sesuai ketentuan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Komentar

BERITA TERKAIT


BERITA TERKINI


BERITA POPULER